Sejarah Nagari Kubang

by Admin | Category Pemerintahan | Jumat, 11 Juni 2021

135 Dibaca

  • Sejarah

Menurut Sejarah Tambo yang kita terima, penduduk Nagari Kubang berasal dari Gunung Merapi, keterangan ini kita peroleh dari penuturan orang tua-tua Nagari Kubang. Asal mulanya nenek moyang kita bertempat tinggal  ( berdiam ) di Gunung Merapi, disana mereka menetap dengan hidup bercocok tanam , kemudian mereka sudah semakin berkembang maka mereka berihktiar untuk mencari tempat untuk pindah. Sewaktu mereka masih berada di Gunung Merapi, mereka juga telah mempunyai beberapa Puak (golongan-golongan) yang terdiri dari 3 ( tiga ) Luhak dan 3 (tiga ) Lubuk, yaitu :

Luhak

Lubuk

Luhak Agam

Lubuk Sipunai

Luhak Lima Puluh Kota

Lubuk Sinawang

Luhak Tanah datar

Lubuk Sikara   

Nagari Kubang adalah bagian dari wilayah Luak Lima Puluh Kota. Disini akan diuraikan golongan yang pindah ke daerah Lima Puluh Kota Khususnya ke Nagari Kubang. Golongan yang turun ke daerah Lima Puluh Kota terdiri dari 50 pasang. Mereka turun melalu Tanjung Alam, terus ke Padang Siribu-ribu, yaitu perbatasan Luhak Agam dengan Luhak Tanah Datar dan Luhak Lima Puluh Kota sekarang ini. Setelah mereka meneruskan perjalanan , tibalah mereka disuatu padang, ternyata rombongan mereka semakin berkurang kemudian mereka bertanya kepada  sesamanya. Setiap ditanya mereka menjawab “Onta” (tidak tahu ) dan semua pertanyaan mereka jawab onta ke onta saja, maka oleh karena itu mereka namailah Padang tersebut dengan “ Padang Si Onta “. Beberapa waktu kemudian diketahuilah bahwa mereka yang hilang tersebut telah bermukim didaerah  Limo Koto Kampar.

Yang disebut dengan Limo Koto Kampar itu adalah :

1.            Kuok

2.            Bangkinang

3.            Salo

4.            Rumbio

5.            Air Tiris

Dari Padang Sionta, sebagian rombongan meneruskan perjalanan arah ke Barat, maka sampailah disebuah batang air. Sewaktu akan menyeberangi batang air tersebut diantara mereka berkata “ Lompati sajalah ‘ akhirnya dinamailah batang air itu dengan “ Batang Lampasi “ Setelah rombongan sampai di seberang batang air ( batang Lampasi ) tampaklah oleh mereka batang Pauh ( mangga ) yang berbuah lebat, dan timbulah niat untuk memakannya sebagai pelepas dahaga, namun mereka kecewa karena buah Pauh tersebut rasanya Sangit ( asam ) , maka tempat itu mereka namailah dengan “ Pauh Sangit “ Nagari Pauh Sangit ini dahulunya adalah satu Jorong di Kenagarian Kubang, oleh karena keadaan alam yang memisahkan dari Ibu Kenagarian yang dibatasi Bukit Barisan ditambah lagi dengan faktor perhubungan, semenjak tahun lima puluhan Pauh Sangit memisahkan diri dari Kenagarian Kubang yang dalam struktur pemerintahan masuk wilayah Kecamatan Payakumbuh. Dari Pauh Sangit rombongan meneruskan perjalanan arah ke Barat, sesampainya di suatu tempat mereka mendengar Siamang berbunyi, maka mereka namailah tempat tersebut  dengan “ Siamang Bunyi “. Dari sana mereka meneruskan perjalanan ke Balai Batu dan setibanya disana mereka berpisah-pisah, sebab sebagiannya ada yang meneruskan perjalanan arah ke Barat lagi atau ke Suliki, Baruah Gunung dan sebagainya. Dan sebagian menuju ke Timur ( Koto Betung ). Mereka menamai tempat ini karena mereka mendapati  banyak sekali Betung ( Bambu ) , mereka bermukim disini semakin berkembang sehingga menjadi 5 Koto / Kampung, sekarang merupakan satu Jorong di Kenagarian Kubang dengan nama “ Limo Koto” , adapun Limo Koto tersebut adalah :

  • Kampuang Koto Botuang
  • Kampuang Pasia
  • Kampuang Juar
  • Kampuang Lukar
  • Kampuang Rumpuik Soruik

Di Koto Botuang ( Limo Koto ) ini mereka menetap membangun perkampungan atau perumahan serta usaha bertaratak ( bercocok tanam ) dan lahan untuk bertaratak tersebut mereka pilih ke arah Barat. Setiap hari mereka menyebut pergi kesana dengan istilah bertaratak, maka tempat itu akhirnya dinamai dengan “Taratak’. Sewaktu mereka tinggal di Koto Botuang  ( Limo Koto ) mereka melihat sebuah pohon kayu yang tinggi dan rindang di sebelah Utara. Kemudian sebagian dari mereka ada yang pergi kesana dengan tujuan jalan-jalan ( rekreasi ) mereka mengatakan bahwa mereka pergi ke pohon, kemudian dinamailah tempat itu dengan “ Kapohon “ karena kapohon berstatus gabungan dari dua Nagari yaitu : Nagari Kubang dan Nagari Tujuh Koto Talago, akhirnya nama kapohon diganti menjadi “ Koto Sarikat” . Selama di Koto Botuang mereka mulai berkembang dan mulai mencari pemukiman baru yang lebih baik, lebih luas dan lebih subur. Disini terlihat dengan nyata betapa cerdas dan dinamisnya nenek moyang yang dahulu kala. Perpindahan  mereka dari Koto Botuang  ini merupakan suatu inisiatif yang tidak mau menerima nasib serta menerima apa adanya. Semangat rantau dan semangat menjelajah telah ada sejak zaman dahulu kala. Perpindahan mereka ini terbagi atas 4 (empat) kelompok, masing-masing kelompok pindah ke daerah yang berbeda, diantaranya :

  • Kelompok Pertama

                Dibawah pimpinan Dt. Patiah Baringek Nan Bajembek pindah  kedaerah Timur

  • Kelompok Kedua

                Dibawah pimpinan Dt. Bandaro Nan Hitam pindah ke Daerah Tujuh Koto Talago

  • Kelompok Ketiga

                Dibawah pimpinan Dt. Mangkuto Nan Lujur pindah ke Balai Talang

  • Kelompok Keempat

Dibawah pimpinan Dt.Mangkuto  Nan Panjang Lidah pindah ke daerah Guguak VIII Koto.

Kelompok yang dipimpin oleh Dt. Patiah Baringek Nan Bajembek pindah kedaerah Timur karena melihat sebatang pohon kayu rindang dan tinggi, ternyata kayu tersebut adalah kayu Kubang Babulu, akhirnya tempat pemukiman mereka yang baru itu dinamai dengan “ KUBANG”, disanalah mereka menetap, bersawah ladang dan membangun perumahan.

Di Kubang mereka mulai berkembang dan sebagian mereka mulai pula bersiap menjelajah daerah baru menuju ke arah Selatan. Sebagian dari rombongan itu menyimpang untuk meneruskan perjalanan menuju Kamang. Tempat penyimpangan ini mereka sebut dengan Simpang, disamping ini terdapat sebuah Rimba Sugiran, akhirnya mereka lengkapi menjadi “ Simpang Sugiran “

Setelah merasa memenuhi persyaratan untuk memekarkan diri, akhirnya pada tanggal 23 Juli 2003 Simpang Sugiran mekar dan membentuk Nagari Sendiri, yaitu Nagari Simpang Sugiran.

  • Luas Wilayah dan Batas Wilayah

Nagari Kubang merupakan salah satu Nagari dari 5 Nagari di Kecamatan Guguak yang terletak 3 Km dari Ibu Kecamatan Guguak.Nagari Kubang mempunyai luas 3100 Ha dengan batas-batas sebagai berikut :

  • Sebelah Utara                : berbatasan dengan Kecamatan Suliki
  • Sebelah Selatan            : berbatasan dengan Suayan Kecamatan Akabiluru
  • Sebelah Barat                : berbatasan dengan Suliki Kecamatan Suliki
  • Sebelah Timur               : berbatasan dengan Nagari Guguak VIII Koto

Adapun Nagari Kubang terletak dalam deretan Bukit Barisan dengan Topografi Dataran, Perumahan, Persawahan, dan Perbukitan dengan ketinggian dari permukaan laut 500 s/d 600 dari permukaan laut. Yang terdiri dari 7 Jorong ;

  1. Jorong Kubang
  2. Jorong Koto Baru
  3. Jorong Tanjung Barulak
  4. Jorong Koto Serikat
  5. Jorong Limo Koto
  6. Jorong Taratak
  7. Jorong Siamang Bunyi

Dengan luas wilayah masing-masing Jorong sebagai berikut:

Tabel 46Data Wilayah Nagari

No

Jorong

Data Wilayah Nagari Kubang (Ha)

Lahan kering

Persawahan

Perkebunan

Hutan

Perumahan

1.

Siamang bunyi

190

148

30

90

710

2.

Taratak

120

117

35

73

530

3.

Kubang

30

47

0

0

90

4.

Limo Koto

48

88

20

52

70

5.

Koto Baru

20

40

20

0

110

6.

Koto Serikat

39

58

20

30

85

7.

Tanjung Barulak

35

40

20

30

65

Jumlah

482

538

145

275

1.660

Pusat Pemerintahan Nagari Kubang terletak di Jorong Kubang ,Namun demikian pusat Pemerintahan ini di tengah-tengah Nagari, sehingga jarak yang ditempuh masyarakat dari masing-masing jorong berurusan ke pusat pemerintahan ini tidak terlalu berbeda .Sedangkan jarak dari Nagari Kubang ke Ibu Kota Kecamatan adalah 3 Km, dan jarak ke Ibu Kota Kabupaten adalah 17 Km. 

Statistik

Link Banner

Informasi Kontak

Alamat kantor:

Jl. Tan Malaka Km.14 Kecamatan Guguak 

Instagram : @kecamatan_guguak


Telephone:
Email: camatguguak@gmail.com
Website: kec-guguak.limapuluhkotakab.go.id