Sejarah dan Batas Wilayah Nagari Tujuah Koto Talago

by Admin | Category Pemerintahan | Jumat, 11 Juni 2021

166 Dibaca

  • Sejarah

Umumnya sejarah Nagari di Minang Kabau senantiasa mencari rujukan Nagari tertua di Minangkabau, Pariyangan. Nagari ini merupakan titik awal berkembangnya nagari lain di Minangkabau. Oleh karena itu penghulu yang ada ini dapat penghormatan lebih besar dibandingkan nagari lainnya. Demikianlah halnya dengan sejarah Nagari Tujuah Koto Talago, masyarakat Nagari Tujuah Koto Talago berasal dari Pariangan Padang Panjang

Pada waktu itu , sekelompok orang dari dari Pariayangan turun ke Gunung Sago. Dalam persepektif kosmogoni, gunung yang selalu dianggap sacral selalu memiliki makna mendaki ( yang berarti lebih tinggi ) jika dipandang dari tempat lainnya. Dilereng Gunung Sago ada satu Nagari yang disebut Padang Siontah. Dari Padang Siontah masyarakat kemudian menyebar ke beberapa wilayah. Ada yang sampai ke Rumbio, Riau, Salo, Air Tiris, Bangkinang dan Kuok. Diantara itu ada 24 orang yang sampai ke daerah Talago. Pada waktu itu tentu saja belum ada nagari dalam pengertian yang utuh. Rombongan orang-orang tersebut dipimpim oleh Dt. Mandaro. Sesampainya ditempat itu, masyarakat mulai menetap dan terbentuklah Taratak, dusun, koto, akhirnya menjadi Nagari. Kemudian mereka membuat semacam struktur pemerintahan yang sangat sederhana. Pucuk pimpinan adat di pegang Datuak Panduko Tuan, setelah berkembang di Talago, kemudian kelompok masyarakat tersebut pindah ke Ampang Godang. Disini mereka mendirikan pucuak adat yang dipimpim oleh seorang datuak pucuak yang bernama Datuak Karaing. Kebesaran Datuak Karaing ditunjukkan melalui kekuasaannya atas wilayah atau rimbo. Jadi untuk setiap penggunaan tanah di Negeri Tujuah Koto Talago, haruslah mendapat izin dari Datuak Karaing terlebih dahulu.

      Penduduk yang semakin bertambah membuat mereka mereka meluaskan pemukimannya, yakni dengan pindah ke Tanjung Jati. Datuak Pucuak di Daerah ini bernama Bosea Nan Elok . Kebesaran Datuak ini adalah pada pakaian. Setelah itu munculah Koto Baru yang dinamakan Koto Kociak. Datuak Pucuaknya  bernama Datuak Tan Marajo. Dia memiliki kekuasaan atas Arak iriang. Artinya kalau ada upacara adat, Datuak inilah yang berwenang mengaturnya. Akhirnya tumbuh Koto Baru yang diberi nama Sipingai. Kekuasaan Datuak Tan Marajo meliputi KotoKociak dan Sipingai, sedangkan Datuak Karaing berkuasa atas Padang Kandi, Padang Jopang, dan Ampang Godang.

Sampai sekarang ninik mamak yang ada di Nagari Tujuah Koto Talago berjumlah sekitar 255 orang. Mereka berada dibawah kaompek suku nagari yang terdiri dari Datuak Panduko Tuan, Datuak Karaing, Datuak Basa Nan Elok dan Datuak Tan Marajo.

Pucuak Adat Nagari Tujuah Koto Talagoatau disebut juga Rajo Adat, adalah Datuak Bandaro Nan Itam. Sebagian informasi tentang sejarah dan Adat Nagari Tujuah Koto Talago, tersurat dalam tambobertuliskan arab melayu yang sekarang berada di tangan Rajo adat tersebut.

        Asal Usul nama Talago dihubungkan dengan unsure alam. Pada masa dahulu , di daerah ini terdapat mata air yang disebut Talago. Menurut pengertian adat talago merupakan satu kumpulan yakni kumpulan Adat. Seluruh adat pusatnya di Talago. Jadi Koto Talago ini merupakan tempat pengambilan keputusan adat Nagari. Istilahnya “ Gontiang itu putuih, biang itu cabiak “ Jika sesuatu tidak putuih ( tidak bisa diselesaikan ) maka dibawa ke aia Tabik. Di aia Tabik ini ada Balai Jariang yang fungsinya utnuk menjaring hal-hal yang tidak bias diselesaikan. Hubungan dengan Aia Tabik ini berkaitan dengan Rajo yang Balimo terdiri dari :

1)            Rajo Dironah yang berada di Talago

2)            Rajo Dihulu yang berada di Situjuah

3)            Rajo di Lareh yang berada di Sitonang

4)            Rajo di yang di Sondi yang berada di Payokumbuah

5)            Rajo di Luak yang berada di Aia Tabik

      Pada masa kolonialisme Belanda di Nagari Tujuah Koto Talago ada seorang pejuang yang gagah berani, namanya Sijambi bergelar Angku Nan Biru. Dia masih keturunan Datuak Mandaro, Sijambi merupakan penganut agama Islam yamg fanatic. Menurut kisah dia orang yang kebal terhadap peluru hingga penjajah sulit untuk membunuhnya. Akhirnya dia terbunuh dengan sebilah pisau. Itu terdapat dalam tubuhnya yang berkarung. Jadi itulah yang dimaksud dengan gelanggang si Jambi atau galanggang Angku Nan Biru.

Pada masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan Nagari Tujuah Koto Talago tercatat dalam sejarah. Daerah ini termasuk rute perjalanan PDRI, dibawah pimpinan Syafrudin Prawiranegara. Beliaubergerilya dari satu tempat ketempat lain setelah Jokyakarta, ibu Negara jatuh ke tangan Belanda. Tugu PDRI yang berdiri tegak disamping disamping Koto Kociakmenjadi bukti sejarah.  Ikatan cultural masih terjalinterjalin dengan erat antar desa,. Contoh yang paling nyata dari hal ini adalah manyangkut dengan kepemilikan tanah khususnya tanah ulayat. Tanah orang Koto Kociak banyak terdapat di Sipingai, sedangkan tanah orang Ampang Godang berada di Padang Kandi, sawah orang Sipingai ada di daerah Talago demikian seterusnya.

Nagari Tujuah Koto Talago berawal dari sampainya rombongan yang tujuah di Talago dipimpin oleh DT Bandaro Hitam, membentuk taratak, dusun, koto dan akhirnya Nagari dengan sistem kepemerintahannya.  Pucuk Pimpinan adat dipegang oleh Dt Panduko Tuan, setelah penduduk berkembang di Talago selanjutnya kelompok masyarakat tersebut pindah ke Ampang Gadang. Di Ampang Gadang mereka mendirikan pucuk adat sendiri yang dipimpin oleh seorang Datuak Pucuk yang bernama  Datuak Karaing ditunjuk melalui kekuasaannya atas wilayah dan rimbo, jadi untuk setiap penggunaan tanah di Nagari Tujuah Koto Talagoharus terlebih dahulu mendapat izin dari DT karaing. Karena penduduk berkembang maka permukinan diperluas, sebagian penduduk pindah ke Tanjung Jati dengan Datuak Pucuk  bernama Datuak Bose Nan Elok, kebesaran Datuak Bose Nan Elok adalah pada Pakaiannya. Setelah itu pendududk makin berkembang sehingga muncul koto baru yang diberi nama Koto Kociak dengan Datuak Pucuknya bernama Dt. Tan Marajo yang memiliki kekuasaan yang mengatur jalanya upacara arak iring.

Dengan seiring perjalanan waktu dan bertambahnya penduduk, maka bertambah pula terbentuknya koto yang baru yaitu yang diberi nama Sipingai,  Kekuasaan Dt Tan Marajo meliputi Koto Kociak dan Sipingai. Datuak Karaing berkuasa atas Padang Kandi, Padang Jopang, dan Ampang Gadang dengan adanya Tujuah Koto, maka pemuka adat semasa itu memberi nama dengan Nagari Tujuah Koto Talago.

Dan pada tahun 1979 sampai 2000 sistim Pemerintahan Desa waktu itu terdiri dari 7 Desa yaitu : Desa Talago, Desa Ampang Godang  , Desa Tanjung Jati , Desa Koto Kociak, Desa  PadangKandi, Desa Sipingai dan Desa Padang Jopang. Pada tahun 2001 terjadi perobahan Pemerintahan dari Desa kembali Kenagari sesuai dengan Peraturan Daerah Kabupaten Lima Puluh Kota Nomor 01 Tahun 2001 dan terjadilah pemekaran 7 Desa menjadi 7 Jorong satu Kenagarian yaitu Nagari Tujuah Koto Talago pada tanggal 29 Pebruari 2001

 

Tabel 19Sejarah Kepemimpinan Nagari Tujuah Koto Talago

No

Nama / Gelar

Masa/Waktu

Asal Jorong

1

Tunus Dt. Bandaro Panjang (Tuk Palo)

 

Tanjung Jati

2

Achmad Chatib Dt. R. Pangulu (Wali Perang )

1948-1950

Ampang Godang

3

Saadut Dt. Bandaro Hitam

 

Talago

4

Idrus Dt. Tan Emas

 

Padang Jopang

5

Syarkawi Zaini

1952 -1957

Koto Kociak

6

Alwizar Dt. Bijo

 

Padang Jopang

7

Sofyan

 

Sipingai

8

H. Al Munir

 

Sipingai

9

Radilas

 

Ampang Godang

10

H.Ahmad Khatib Dt. Putih

 

Ampang Godang

11

H. Zawawi Salim

       -1983

Koto Kociak

12

Drs. Syaiful Bardi Dt. Mongguang

2001-2005

Koto Kociak

13

Yon Hendri, SS (Pjs)

2005-2007

Ampang Godang

14

Drs, Hasbi Zuhdi

2007-2010

Tanjung Jati

15

Khairul Andri ( Pjs)

2010-2011

Koto Kociak

16

Yon Hendri, SS

2011-2017

Ampang Godang

17

Errizulman ( Pjs)

2017-2018

Padang Jopang

18

Yon Hendri, SS

2018-2024

Ampang Godang

 

  • Batas Wilayah

Nagari Tujuah Koto Talago dibatasi oleh wilayah di sebelah Utara yaitu Nagari Jopang  Manganti dan Talang Maur  Kecamatan  Mungka, disebelah selatan dengan nagari Kubang Kecamatan Guguak dan sebelah Barat berbatasab dengan Nagari Limbanang Kecamatan Suliki, di sebelah Timur Berbatasan dengan  Guguak VIII Koto  Kecamatan Guguak

  • Luas Wilayah dan Topografi

Luas daerah 21 Kilometer Persegi atau seluas 21.000 Hektar

Jumlah Jorong : 7 (Tujuh)

  • 1).Jorong Talago
  • 2).Jorong Ampang Godang
  • 3).Jorong Tanjung Jati
  • 4).Jorong Koto Kociak
  • 5).Jorong Padang Kandi
  • 6).Jorong Sipingai
  • 7).Jorong Padang Japang

Dataran Tinggi Nagari Tujuah Koto Talago secara Geografis terdiri atas wilayah perbukitan bergelombang yaitu Jorong Padang Kandi, Jorong Sipingai  dan Jorong Tanjung Jati.  Dataran  yaitu Talago, Ampang Gadang ,Koto Kociak dan Padang Jopang . Ketinggian daerah sekitar 500-600 meter diatas permukaan laut.

 

Statistik

Link Banner

Informasi Kontak

Alamat kantor:

Jl. Tan Malaka Km.14 Kecamatan Guguak 

Instagram : @kecamatan_guguak


Telephone:
Email: camatguguak@gmail.com
Website: kec-guguak.limapuluhkotakab.go.id